Summit, Puncak Abadi Para Dewa (Part I)

Tahun lalu di bulan ini juga (blog ini ditulis bulan juli. red), tepat perjalanan ku yang kedua menemuinya dimulai. “dia” sebenarnya hanyalah sebuat tempat, namun terasa sangat dekat dengan diriku. Sebegitu dekatnya, hingga saat aku bertemu dia, aku merasa menemukan siapa diriku lagi. Tidak perlu berbicara melewati sepatah kata, tidak perlu mendengar getaran suara. Hanya diam, memandang hamparan hijaunya hutan, semburat birunya langit, dan putihnya kabut yang datang perlahan, itu semua sudah cukup untuk membuatku terhenyak mengenal lagi siapa diriku sebenarnya.

Tahun ini aku tidak menemuinya, karena segudang rutinitas yang sedikit abu abu kegunaannya. Aku kangen sama dia, kangen dengan kemisteriusannya, kelembutan, dan kesenyapan dalam setiap sudutnya. Harusnya sudah dari tahun kemarin aku menulis cerita ini, aku takut ingatan akan dia terhapus momen yang akan terjadi di setiap detik aku jalani. That’s why, malam ini aku ingin mengingat sepenuhnya setiap detil harap yang membuatku ingin menapakkan kaki kedua kalinya di mahameru.

Dua orang yang menyayangiku itu, mengantarku, memastikan badanku cukup kuat untuk bisa menghadapi jahatnya cuaca yang katanya disana sedang buruk buruknya. Aku tetap bersikeras ingin menemuinya, dan dua orang lelaki itu hanya bisa membiarkan kaki ku melangkah menuruti keinginanku.

Terlepas dari dua orang lelaki itu , aku menuju salah seorang sahabat, yang membuatku semakin percaya diri untuk bertemu dia. Hai, trimakasih sahabat yang alih alih kusebut dulur sampai saat ini. Kami bertemu di terminal bungurasih. Dan rombongan kami yang berjumlah 8 orang pun beringsut ke Malang malam itu. Masih senyap, di dalam bis, karena mungkin kami masih terlelap dengan imajinasi kami tentang dia. Pendapat dan pandangan pandangan tentang dia masuk ke dalam otak kami, menimbulkan sebuah penggambaran samar tentang dia yang semakin menggugah imajinasi kami. Hingga kamipun terlelap selama 1 setengah jam perjalanan menuju ke arah selatan itu.

Udara segar terhirup, barang bawaan juga terlihat jelas menjulang tinggi di pundak kami masing masing. Dan malam semakin pekat. Kami sampai, di terminal kecil yang sudah seharusnya beranjak menjadi terminal kelas kota besar. Sudah lebih dari jam 9 malam, dan naik apa kami ke Tumpang? Sebuah kecamatan kecil, dimana kami bisa melakukan the last check. Kenapa begitu? Hanya di Tumpang kami bisa menemukan segala hal kebutuhan yang berbau modernitas, karena disitulah mini market terakhir bisa ditemui. Dan ya, kami berangkat ke Tumpang dengan angkutan umum yang hanya mau berangkat

JIKA PENUH, dan itu sudah jam 9 malam!

Okay, it seems like I have to wait a couple of hour. Tapi ternyata memang selalu ada arti dalam setiap momen. Dengan menunggu, aku yang tidak banyak mengenal teman teman satu team ku, aku bisa banyak berbicara dan bercerita. Dan tentu saja mengumpulkan kepercayaan antara satu dengan yang lain. Saling bertukar pandangan, cerita dan pemngalaman, namun tetap saja karena aku perempuan tersirat khawatir di mata mereka.

Angkutan kota berangkat, menembus kelamnya malam dan dingin nya malang. Carry yang hampir penuh itu beranjak meninggalkan pinggiran kota dan berangsur ke selatan. Kami semakin dekat dengan semeru.

Ini dia Tumpang. Pusat kotanya hanya pasar, dan sebuah bangunan yang paling cling dan terang adalah sebuah minimart kecil. Last check, dan mengingat ingat apa saja yang aku butuhkan.

Aku masih merasakan kecanggungan diantara kami, entah itu sebuah jurang kepercayaan ato hanya miss karena belom sempat saling mengenal. Namun aku tahu, dengan setiap momen yang terjadi nanti ato yang sedang kami lakukan saat ini, akan membuat kami semakin saling percaya, atau bahkan menjadi sodara.

Selesai melahap nasi goreng, untuk mengganjal perut selama perjalanan ke desa terakhir, kami bersiap menaikkan semua carrier ke atas jip. Dan itu sudah jam 1 malam. Waw, sepertinya perjalanannya akan sedikit mendebarkan. Bayangin aja, meskipun kami akan melewati kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) namun perlu diingat kalo tempat itu masih dipenuhi dengan hutan, hewan liar dan manusia liar, atau perampok tepatnya. Positif thinking, itu yang bisa dipertahankan, karena aku yakin semua yang ada di tim ini mempunyai sebuah niatan baik untuk bisa bertemu dengan dia, mahameru.

Start dengan jip, memasuki kawasan TNBTS, hanya saya dan sopir yang duduk di depan, dan yang lain berdiri di back truck yang dijejali dengan carrier carrier besar kami. Melintasi hutan, jalanan menuju air terjun, dan melihat jelas bundarnya bulan diatas bentangan pasir berbatas dinding bukit bantengan, Bromo. Aku hanya bisa terkesiap, dan seperti terbangun dari tidur ku, seketika. Dan mensyukuri setiap jengkal pemandangan yang kunikmati di setiap sudut mataku. Ya Tuhan, sepertinya memang sebuah kesempurnaan cuman kamu yang bisa menciptakannya.

Jip terhenti, suasana sepi, hanya desir angin gunung yang menyatu dengan dinginnya udara dan kelamnya dini hari. Ranu Pane, aku tepat berdiri menghadapnya, dan dia masih seperti itu, diam, menawan dan sangat anggun. Siapapun bisa terhanyut dengan keheningannya. Aku? Juga, namun segera tersadar bahwa kami harus mendirikan tenda darurat untuk merebahkan punggung kami. Beberapa jam lagi, langkah itu akan dimulai. Mengawali pertemuanku dengannya 🙂

Hup! Aku memulai langkah ku pagi ini, Ranu Pane menyambutku dengan keceriaan jernihnya. Hembusan angin juga seperti menuntunku untuk sesegera mungkin bertemu dia. Aku suka perjalanan, menikmati setiap detial pemandangan yang terpampang di depan mataku, ditemani dengan lagu dan obrolan kecil saat bersandar di dinding shelter untuk melepas sedikit penat. Kami berusaha untuk menikmati setiap jengkal perjalanan menuju puncak para dewa itu. Dan sahabatku, berkata, jika ini adalah sebuah perjalanan pertama bagi yang lain. Mereka belom pernah bertemu dengan semeru, sedangkan aku dan dia, ini adalah kali ke dua.
Kabarnya, semeru sedang berbahaya untuk didaki. Tapi kepulan semangat rupanya nggak bisa dikalahkan dengan semua itu. Dia berbahaya karena dia tidak meletus, atau menyemburkan wedhus gembel-nya lagi (sebutan lava vulkanik dan asap belerang yang keluar dari semeru). Keyakinan ku masih bulat, dan di imajiku serta bayanganku, hanya ada dia MAHAMERU.

(cont….)
Advertisements

2 Comments (+add yours?)

  1. mm
    Apr 11, 2011 @ 01:58:56

    (cont…)???

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Author

Calendar

December 2017
S M T W T F S
« Jan    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
exotichorizons

the sky is the limit.

Gandung Adi Wibowo

Librarian Expert - Digital Storyteller - Lifelong Learner

opicfotografia

The greatest WordPress.com site in all the land!

mbakcyin

Just another WordPress.com site

dimasirvan

Just another WordPress.com site

Blog Bukik

Meretas Ide Beda

Sheezca's Blog

Anything around my life

SaRaH Tidak Sendiri

karena sendiri itu nyesek! (yuhuuu)

dwimon

Secangkir kopi dan imajinasi

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Frinalusycasca's Blog

Its all about self, feminis, music, book and adventure

%d bloggers like this: