Perjalanan ke empat, menuju Mahameru

Saat sudah berumur, menyesuaikan waktu memang seperti menjadi sebuah pe er besar. Susahnya minta ampun. Kedewasaan bukan membuat manusia lebih mudah untuk mengatur waktu, namun malah semakin susah karena terlalu banyak kepentingan yang mendistorsi untuk mengambil keputusan. Perjalanan ke empat menuju Mahameru ini memang membutuhkan banyak usaha emosional untuk bisa meyakinkan hati untuk 100% berangkat.

Menghilang dari peradaban, bersama 2 orang hiking partner lama saya, dan 8 orang teman laki – laki, membuat saya merasa unik diantara team laki – laki ini. Perjalanan dimulai, 11 Juli 2012 dari sebuah cafe  yang mempertemukan saya dengan para penikmat alam ini. Ke-seru-an dimulai, dengan memenuhi 1 bemo dengan 11 orang manusia yang membawa tas hiking masing – masing. Jadi kalo ditotal, sama seperti 22 orang memenuhi bemo tersebut. Sekitar 40 menit  perjalanan dan atas ketabahan ke-sebelas manusia yang lebih mengutamakan tas daripada orangnya, kami terangkut dalam satu bemo menuju terminal Bungurasih.

Mendaki gunung itu membutuhkan fokus dan pemanasan, karena ancamannya adalah sebuah keselamatan jika 2 hal itu diabaikan. Dan rupanya kesempatan itu turun, saat kami memang harus berjalan memanggul tas hiking menuju bagian dalam terminal. Lebih kurang 200m ditemani dengan udara panas surabaya jam 12 siang menemani pemanasan kami. Perfect bukan?

Dari Bungurasih, rombongan kami menggunakan bus patas untuk menuju terminal Arjosari Malang. Tarif murah, hanya 15ribu, membuat kami harus sigap berebut untuk masuk ke dalam bus dengan penumpang lain, dan masih memanggul tas besar looh.

Perjalanan Surabaya – Malang seperti menjadi waktu yang tepat untuk kami beristirahat sejenak, menyiapkan tenaga yang akan benyak terkuras esok, plus perjalanan heboh yang masih akan menanti kami menuju Ranu Pane, desa terakhir yang bisa dilalui kendaraan bermotor.

2 jam perjalanan, kami sampai di Malang. Bagusnya, tidak ada cerita macet selama perjalanan Surabaya – Malang ini. Penuhnya terminal arjosari, suara logat medok asli Malang dan udara segar kota ini mendadak seperti sebuah keceriaan yang renyah menyambut kami. ” Semeru, aku datang ” ucapku dalam hati.

Untuk menuju Ranu Pane, kami harus menuju Tumpang. Satu – satunya kendaraan yang murah meriah dan bisa mengantarkan kami menuju Tumpang adalah ” Bemo! ” cuman satu yang disayangkan, bemonya baru bisa berangkat kalo angkotnya sudah penuh. Itulah, salah satu trik licik bemo di Malang karena mereka semakin tergeser dengan meningkatnya kendaraan pribadi yang dipake sama kota Mahasiswa ini. Padahal dengan trik licik ini malah membuat para bemo semakin susah mencari pelanggan. Tapi, ya sudahlah, yang penting akhirnya saya dan segerombolan lelaki heboh ini bisa berangkat menuju Tumpang.

Jauh menuju Malang Selatan, melewati jalan utama pedesaan, cukup sekitar 45 menit kami sampai di pasar Tumpang. Jantung hati dari desa ini, sekaligus juga menjadi last check point dari peradaban kemajuan dunia teknologi yang ditandai dengan adanya AlfaMart, hihi… terbukti lho minimarket ini bener – bener jadi sebagai miracle bagi para pendaki. Perjalanan masih panjang, beranjak dari melengkapi kebutuhan, kami menuju sebuah rumah yang menjadi pool untuk pemberangkatan para pendaki ke Ranu Pane. Dan yang membuat amazing, di pool tersebut kami bertemu dengan pendaki lain dari Bandung dan Jakarta, sudah seperti teman lama saja, saling menyapa berbagi kopi dan teh sebelum keberangkatan kami menuju Ranu Pane menggunakan ” truck! “.

Tas Carrier sudah bertumpuk di bak truk, dan kami semua berdiri tegak diatas bak truck yang sudah dialasi dengan kain plastik terpal. Hap! kami berangkat. Dengan kontur jalanan yang naik turun, dan aspal jalanan yang tidak rata plus jalanan yang kecil, menjadi satu excitement tersendiri bagi rombongan pendaki yang berada di bak truck ini. Sekitar 2 jam terlempar kesana kesini di bak truck, terkesima dengan deretan dinding kawah bromo, dan pucuk pucuk gunung yang mengintip di setiap perjalanan.

Team semakin excited, saat mulai memasuki perkampungan penduduk yang dikelilingi oleh ladang aneka sayur, karena itu berarti kami semakin dekat dengan Ranu Pane. Mendekati maghrib, danau ranu pane mulai mengintip dan terlihat semakin jelas. Setelah 2 tahun absen, akhirnya kembali melihat ketenangan Ranu Pane. Satu yang paling menarik di desa ini menurut saya, rumah ibadah mulai dari Masjid, Pura, dan Gereja ada di desa kecil ini dan itu membuktikan betapa damainya hidup berdampingan di Ranu Pane.

Truck berhenti, kami pun di drop tepat dedapan ruang registrasi untuk memulai pendakian. Team kami, dan teman2 pendaki dari Bandung dan Jakarta yang satu truck dengan kamipun sama bersemangatnya merasakan hawa yang semakin dingin di Ranu Pane sambil menurunkan carrier2 kami semua. Menyenangkan, meskipun belum kenal, namun kami sudah saling bahu membahu untuk menurunkan carrier dari truck.

Kami baru bisa memulai perjalanan kami esok hari, hal ini merupakan sebuah rules dari TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru) agar para pendaki tidak melakukan perjalanan malam, karena memang cukup berbahaya. Kecuali, kami menggunakan porter setempat atau guide yang sudah berpengalaman. Di Ranu Pane, tersedia beberapa shelter dan tempat milik penduduk yang disewakan. Terdapat 2 bangunan shelter, yang jika pendakian ramai, pasti bakal dipenuhi oleh pendaki, karena meski bangunannya semi terbuka, namun karena gratis, makanya shelter ini jadi pilihan utama para pendaki. Kalo penuh, tenang saja, bisa menginap di penginapan penduduk yang bersebelahan dengan satu2 nya penjual rawon, pecel dan soto. 1 orang dikenakan biaya 5 ribu, cukup pake matras dan sleping bag sendiri, sudah cukup hangat lho.

Paginya, kami memulai dengan sarapan Rawon, nikmat, kenyang dan MURAH!. Setelah registrasi, kami mencoba pemanasan, bagaimanapun stretching dan pemanasan ini memang dirasa perlu, karena paling lama kami akan berjalan ke Ranu Kumbolo selama 8jam.

Tepat jam 8 kami start dari Ranu Pane, dengan mengucap doa dari hati masing2 kami mantap melangkah. Menuju Ranu Kumbolo, kami harus melewati 4 pos, Pos pertama akan ditempuh dalam waktu 2 jam dengan jalan berpaving dan cukup datar, Pos kedua jaraknya cukup dekat dengan Pos pertama, mungkin ditempuh dalam waktu 1 jam. Yang menarik di pos ini, spot terakhir adanya sinyal handphone segala provider, lumayaannn upload twitter ato facebook, atau hanya sekedar menghubungi keluarga dekat. Menuju pos ketiga, kita akan masuk ke gunung watu rejeng. Dengan pemandangan dinding gunung yg seperti di rajang, karena itu gunung ini disebut Watu Rejeng. Disini, juga terdapat jembatan merah, spot yg cukup menarik untuk sekedar beristirahat dan nyamil makanan kecil, mengingat Watu Rejeng itu cukup panas. Di Pos tiga, kami beristirahat cukup lama, karena di pos ini bersebelahan dengan satu tanjakan yang cukup curam, saking curamnya kami menyebutkan tanjakan NAZI karena kemiringan dan kecuramannya 45derajat, kemiringan yang hampir sama saat org Nazi mengacungkan tangan pada saat ketemu sama Hittler. konyol!

Mendaki tanjakan nazi dengan carrier yang membeban di pundak memang sesuatu, plus dapat bonus dengan teriknya sinar matahari saat itu. Semangat saya ngga mau putus, dibayangan saya, cuma terpikir Ranu Kumbolo yang menanti satu jam kedepan. Ini hanya bagian dari siksaan. Selepas tanjakan Nazi, jalan mulai datar, hanya 2 sampai 3 step tanjakan, kemudian datar. Kemudian, tepat di ujung sisi bukit, warna biru kehijauan itu terlihat. Ranu Kumbolo menyapa. Semakin girang, jalanan datar sudah terhampar di depan, dan savana menuju Ayak – Ayak semakin terlihat, dan yang paling penting adalah Tanjakan Cinta, dibawah tanjakan itu kami akan melewati malam ini. Team semakin bersemangat berjalan, disekitar Kumbolo sudah banyak para pendaki mendirikan tendanya. Bener – bener surga para pendaki 🙂 nice! Seperti kembali ke rumah, Ranu Kumbolo ini terasa nyaman dan hangat, meskipun dikelilingi dengan pendaki lain yang belum kenal atau baru saja kenalan. Seperti tetangga baru kami, yang berasal dari Jakarta dan Bandung, sedari Tumpang dan Ranu Pane, kami memiliki jadwal yang hampir sama. Mereka hebat, berjalan teratur, meskipun di carrier salah satu anggota team nya ada yg bawa semangka :)) mau bikin es buah katanya. Amazing kan?

Melewati malam di Ranu Kumbolo, saya hanya jadi penonton, yang memberi pertunjukan pastinya adalah alam. Dengan tenangnya riak Ranu Kumbolo, dan taburan bintang yang mulai bermunculan, semuanya sempurna. Dalam dingin, membuat kami guyub, makan malam, nyamil marsmellow, sharing tentang mantan (hahah) dan berbagi api dengan tetangga. Kalo sudah seperti ini, terlihat memang orang Indonesia itu peduli satu sama lain, entah yang baru dikenal atau pun sudah lama kenal. Sepertinya memang kalo sudah banyak berinteraksi dengan alam, melatih simpati dan empati kita ke orang lain. Teknologi, kemajuan, dan sistem menyamankan manusia di kota besar seperti mendidik pribadi – pribadi penduduknya untuk menjadi orang individualis, tanpa peduli orang lain. Berbeda dengan disini, semua peduli, semua guyub, dan semua belajar untuk saling mengerti.

Pagi hari, saya berharap bisa melihat kado luar biasa dari Ranu Kumbolo, yaitu Sunrise. Jika waktunya tepat, matahari akan muncul tepat di cekungan bukit, sinarnya akan membakar air danau sampai berwarna orange ke emasan dan memaksa kabut2 yang berada diatas danau untuk naik. Tepat pukul 6 pagi, saya mencoba membuka tenda, namun sayang kami diserang kabut, semuanya putih diluar bahkan matahari yang seharusnya sudah terlihat ini juga samar tertutup kabut putih yang cukup tebal. Jadi? tidur lagi saja lah, mencoba menyiapkan energi untuk perjalanan nanti malam ke summit.

Siang hari, kami sudah siap mengepak barang kami yang bener2 dipenuhi dengan bahan makanan kedalam 11 carrier kami. Hap! dan team sudah siap untuk mendaki Tanjakan Cinta yang suppa duppa famous buat para pendaki galau. Kenapa gitu? karena menurut mitos, jika seorang pendaki bisa mendaki Tanjakan cinta tanpa berhenti dan menoleh kebelakang, dia akan mendapatkan jodohnya. Hahah, sebuah filosofi mencari cinta si sebenernya. Di puncak tanjakan cinta, masih ada surprise lg, view ranu kumbolo yang benar –  benar perfect! dan saat berbalik badan, Oro – Oro Ombo yang membuat hati saya terkejap. Oro – oro ombo adalah savana luas, yang menjadi batas daerah Kumbolo dan gunung Jambangan. Seberapa luas? sangat luasss.. FYI jangan melewati daerah ini terlalu malam, diatas jam 6malam, karena memang sepertinya, daerah ini lebih agresif daripada daerah lain 😀 pernah mengalami saat pendakian semeru kedua, dan saya berharap tdk melewati daerah ini saat malam sekali lagi.

Jambangan terlihat kokoh, tinggi, angkuh dan kejam. Kenapa? pohonnya tinggi2 dan semak2 nya sangat kering, hingga jika menggores kulitmu akan terasa perih. Itulah karakter gunung jambangan, yang memisahkan saya dengan tujuan saya selanjutnya, Kalimati. Melewati Jambangan memang butuh kesabaran, panas, dan track yang cukup panjang meskipun ngg naik turun plus debu karena tanah kering, membuat saya harus ekstra meredam emosi. Status kawasan jambangan ini lebih berbahaya dari pada pos 1 – 4, karena memang, sudah banyak terjadi longsor disini, hingga jalanan terputus ataupun setapak tanah yang cukup tinggi yg harus dinaiki. Sekitar satu jam setengah kami berjalan, kami sampai di Savana Jambangan. Savana ini menarik, kami bisa dengan jelas melihat Mahameru dari titik ini. Savana ini cukup luas, dan dia akan terbentang sepanjang perjalanan menuju Kalimati dan dibagi – bagi menjadi beberapa area. Setiap areanya dibatasi dengan hutan lebat yang banyak ditumbuhi akar2 gantung yang menimbulkan kesan seram. Jika saya hittung, savana ini dibagi menjadi enam bagian, dengan hutan akar gantung selebar 5-10 meter yang membagi tiap – tiap bagiannya. Semakin dekat menuju Kalimati, melihat sebuah pohon tumbang yang dijadikan jembatan karena longsor yang sebenernya tidak cukup dalam. Kalo mau lebih fun, boleh melewati pohon tumbang, tapi percaya deh, harus jaga keseimbangan. Tapi kalo mau santai, lewat bawah longsorannya juga boleh, hanya yg membuat malas, harus turun dan mendaki lagi.

Kalimati menyambut kami, dengan sunset dan beberapa orang anggota team yang sudah sampai, dan lagi2 kami bertetangga dengan team dari Jakarta dan Bandung. Beginilah, jadi semakin akrab. Suhu di Kalimati ngga tanggung2, saat masih ada matahari benar2 terik, tapi saat matahari terbenam, boleh uji nyali buat menahan dingin yg benar2 menggigit tulang. Sampai saking ngga kuatnya, kami malas untuk makan malam di luar tenda. Hari itu team tidur lebih awal, karena kami akan summit jam 11 malam. Jalur pendakian menuju Mahameru banyak hilang dan longsor, karena memang Mahameru masih tergolong gunung yang aktif. Beberapa tahun yg lalu wedhus gembel (asap yg menyembur dari kawah) sempat tidak keluar, namun sekarang wedhus gembel itu sudah dapat disaksikan lagi oleh para pendaki. Jam 11 malam kami sudah siap, di sisi lain Kalimati juga banyak pendaki yang bersiap untuk summit. Aku tergetar, sedikit cemas, karena saya dan soulmate pendakian saya belum pernah bersama orang sebanyak ini buat summit.

Saya dan team mulai memasuki kawasan Semeru, sangat terlihat jelas dari kontur tanah dan tanjakan2 yg jarang terdapat tanah datar. Jalur pendakian ini memang sedang ramai, banyak nya pendaki memang membuat debu semakin tebal. Dan sampailah kami di Arcapada, satu tempat camp terakhir para pendaki. Mungkin harus cukup berhati – hati jika nge-camp di Arcapada, karena memang tanah yg labil dan sering longsor menuntut kewaspadaaan kita, namun malam itu cukup banyak pendaki yang ngecamp disitu malam itu, karena memang lebih dekat dengan Summit, tapi di Arcapada ini tidak ada sumber air. Sumber air hanya terdapat Sumber Mani, sebuah sumber air dari air tanah yang berjarak sekitar 1 jam perjalanan dari Kalimati. Dan Sumber Mani tidak searah menuju Mahameru. Setelah cukup beristirahat, kami semakin naik, udara semakin tipis dan debu semakin tebal. Sampai di Kelik, kami kembali harus take a break untuk menunggu rombongan team yang tersisa di belakang. Di Kelik, banyak terdapat monumen2 kecil untuk menghormati para pendaki yang meninggal atau hilang. Kenapa di Kelik, karena menurut cerita, memang banyak ditemukan barang2 milik pendaki yang hilang disini. Kami kembali berjalan, dan didepan kami sudah terlihat longsoran yg cukup panjang, sehingga mengharuskan kami harus berjalan satu persatu, dan tepat setelah longsoran itu, TANJAKAN PASIR. Mahameru, aku datang (lagi) batinku dalam hati. Ini akan jadi summit ku yg ketiga. Namun dengan kondisi tdk 100% aku cuman punya keyakinan. Tanjakan pasir ini paling mematikan, meskipun jaraknya pendek, tidak sejauh Ranu Pane ke pos 1, namun tanjakan ini merupakan area yang cukup lama menghabiskan waktu.

Summit pertama, saya berpikir kenapa saya harus muncak, karena pada saat itu, saya diharuskan muncak demi memberikan reportase dari tanah tertinggi di pulau jawa. Summit kedua, saya kembali bertanya, kenapa saya harus muncak? saya sudah pernah melihat puncak, dan itu cukup. Dan Summit ketiga, saya hanya berpikir, saya ini gila, kondisi badan ngga fit, situasi yang benar2 menguras energi, kenapa saya harus mau muncak lagi, ya mungkin saya gila. Hampir 7 jam perjalanan saya menghabiskan waktu di tanjakan pasir. Dan beberapa pendaki mengatakan ” mba, lebih jauh ke kalimati lho daripada ke puncak “, jadi konyol kan kalo saya turun lagi.

PUNCAK, 3676mdpl, tanah tertinggi di pulau jawa. Kembali saya di tempat ini, menikmati setiap biru yg dilukis oleh sang Kuasa, menamati dalam diam setiap bayangan gunung yang jauh terlihat, putihnya awan yang menggumpal, dan suara dentuman wedhus gembel yang membahana. Jonggring Saloko, sebutan kawah Mahameru yang semakin meluas dan sesekali bergemuruh, menghiasi pagi itu. Syukur, saya bisa bertemu lagi dengan Mahameru, syukur saya bisa bertemu dengan taman-teman baru dalam team. Dan saya hanya bisa berharap bisa kembali mencium harum pasir Mahameru. Suatu hari nanti, saya akan kembali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Author

Calendar

September 2012
S M T W T F S
« Jul   Jan »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  
exotichorizons

the sky is the limit.

Gandung Adi Wibowo

Librarian Expert - Digital Storyteller - Lifelong Learner

opicfotografia

The greatest WordPress.com site in all the land!

mbakcyin

Just another WordPress.com site

dimasirvan

Just another WordPress.com site

Blog Bukik

Meretas Ide Beda

Sheezca's Blog

Anything around my life

SaRaH Tidak Sendiri

karena sendiri itu nyesek! (yuhuuu)

dwimon

Secangkir kopi dan imajinasi

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Frinalusycasca's Blog

Its all about self, feminis, music, book and adventure

%d bloggers like this: